Surabaya, Porosbaru.com : Peristiwa seorang ibu hamil yang ditandu asal Desa Tembayangan, Kepulauan Kangean, Sumenep, mendapat perhatian dari Anggota DPRD Jawa Timur dapil Madura, Nur Faizin, Sabtu (18/04) pagi.
Menurutnya, kejadian yang dialami Irayatun Nasirah (26) tersebut menjadi potret nyata masih adanya ketimpangan pembangunan infrastruktur di Jawa Timur, khususnya antara wilayah perkotaan dan daerah pelosok.
“Infrastruktur jalan serta layanan publik di kota-kota besar di Jawa Timur relatif memadai, sementara daerah pelosok, terutama wilayah kepulauan seperti Kangean, masih tertinggal. Ini tentu miris jika dibiarkan,” ujarnya.
Ia menilai, kondisi tersebut menunjukkan masih adanya pekerjaan rumah besar bagi pemerintah dalam mewujudkan pemerataan pembangunan. Padahal, kata dia, kebutuhan masyarakat di perkotaan dan pedesaan sejatinya tidak berbeda.
“Infrastruktur primer seharusnya ada di setiap daerah, jangan sampai tidak ada di sana. Ini menyangkut hajat hidup, jangan biarkan masyarakat kesusahan,” tambahnya.
Faizin juga mengungkapkan, wilayah kepulauan kerap luput dari perhatian dalam pembangunan. Ia mencontohkan perbedaan akses layanan dasar seperti listrik yang masih belum merata, terutama di kepulauan.
Anggota DPRD Jatim dari fraksi PKB itu berharap, peristiwa ini dapat menjadi momentum evaluasi bagi pemerintah agar pembangunan tidak hanya terpusat di wilayah perkotaan, tetapi juga menjangkau daerah-daerah terpencil seperti kepulauan.
“Di zaman ini, bagi masyarakat kepulauan kenikmatan seperti di daerah daratan masih menjadi mimpi. Mereka kebanyakan dapat menikmati listrik hanya di malam hari. Ini harus menjadi evaluasi agar pembangunan tidak hanya terpusat di wilayah perkotaan,” tandas Faizin.
Seperti diberitakan sebelumnya, Irayatun Nasirah (26), seorang ibu hamil asal Desa Tembayangan, Kangean, terpaksa ditandu warga melewati jalan setapak dan perbukitan akibat poros utama menuju fasilitas kesehatan rusak berat.
Camat Kangayan, Nasrullah, mengakui kondisi jalan poros selatan di wilayah Batuputih-Cangkraman memang mengalami kerusakan, terutama saat musim hujan. Namun, ia memastikan jalan tersebut masih dapat dilalaui saat musim kemarau.
Nasrullah menjelaskan, pemerintah saat ini Fokus pada pengerjaan di poros utara sepanjang 2,4 kilometer, termasuk pembangunan jembatan dan plengsengan dengan anggaran sekitar Rp8 miliar.
“Sudah kami koordinasikan, tapi saat ini masih pengerjaan poros utara. Pembangunan dilakukan bertahap. Resminya, kami belum tahu, kami hanya mengusulkan melalui Musrenbangcam. Untuk teknis dan realisasi, silakan ke dinas terkait,” jelasnya, Kamis (17/04) siang.
Melalui grup WhastApp Kangayan, Nasrullah, menghimbau kepada masyarakat untuk bersabar sembari menunggu pembangunan yang bertahap.
“Sabar pak, bertahap. Tahun ini, Kangayan dapat 2,4 Km di hutan dan di wilayah Kangayan dan plengsengan. Kecamatan sebelah tidak dapat pengaspalan pak, sabar, sabar,” tulisnya di grup WhatsApp.
Terpisah, Kepala Dinas PUTR Sumenep, Eri Susanto, menyatakan jalan poros yang dimaksud bukan merupakan kewenangan pemerintah kabupaten, melainkan jalan desa.
“Itu bukan jalan kabupaten, Cangkaraman-Batuputih itu jalan desa. Saat ini kami masih fokus perbaikan poros utara, lalu dilanjutkan ke Kolo-Kolo dan Jukong-Jukong,” pungkas Eri, Jumat (17/04) sore. (Aditya/Red).












Komentar