Tubuh Perempuan Adalah Pasar Di Media Sosial

Oleh : Sitti Nor Alinda

Porosbaru.com : Di tengah gemerlap modernitas dan janji kebebasan yang ditawarkan zaman, perempuan justru sering terjebak dalam labirin baru yang lebih halus dan sulit dikenali. Perempuan tidak lagi hanya berhadapan dengan batasan tradisional yang kasat mata, tetapi juga dengan tekanan kultural, standar kecantikan, dan ilusi kebebasan yang dibungkus rapi oleh logika pasar.

Selama berabad-abad peradaban manusia telah membuat gambaran tentang perempuan dengan cara pandang yang ambigu dan paradoks. Perempuan dipuja sekaligus direndahkan. Ia dianggap sebagai tubuh yang indah bagai bunga ketika ia mekar, tetapi kemudian dicampakan begitu saja ketika ia layu.

Perempuan juga dipuja sebagai tiang negara maupun ibu kandung negara. Juga ketika menjadi ibu, anak-anak memujuinya “surga ditelapak kakai ibu”, tetapi ketika ia menjadi istri, menurut teks agama ia harus tunduk pada suami. Ia tidak boleh keluar rumah sepanjang suami tidak mengizinkannya. Istri juga tidak boleh menolak manakala suami menginginkan tubuhnya, kapan dan di mana saja.

Dari realitas yang kontradiktif inilah feminisme menemukan relevansinya. Feminisme bukan sekadar gerakan perlawanan, melainkan cara perempuan membaca, memahami, dan mendefinisikan dirinya di tengah struktur sosial yang timpang.

Menurut Mary Wollstonecraft, isi pemikiran feminisme memiliki ciri yang paling universal, yaitu subordinasi perempuan atas laki-laki. Feminisme hadir untuk membongkar konstruksi lama yang diciptakan budaya dengan  menempatkan perempuan dalam posisi subordinasi, sekaligus menantang narasi yang selama ini dianggap “kodrati” padahal sarat kepentingan.

Namun, dalam konteks ke kinian, perjuangan feminisme tidak lagi sesederhana melawan patriarki dalam bentuk tradisional. Ia juga dihadapkan pada tantangan baru. Perempuan masa kini dituntut tidak hanya kritis terhadap relasi gender, tetapi juga terhadap sistem ekonomi dan budaya yang secara halus terus mereproduksi ketimpangan dalam wajah yang tampak “modern” dan “membebaskan”.

Emansipasi Konsumerisme
Berbicara feminisme kurang lengkap rasanya tanpa membicarakan emansipasi perempuan. Feminisme dan emansipasi perempuan memang seperti mata uang yang tak bisa dipisahkan. Cita-cita emansipasi perempuan dari penindasan, perbudakan dan kedudukan yang direndahkan memang menjadi karangka besar dari feminisme.

Para perempuan yang mengaku feminis di seluruh dunia dan dari masa ke masa memiliki imaji tersendiri mengenai apa yang mereka idealkan untuk emansipasi perempuan. Imaji tersebut sangat bermacam-macam, tergantung dengan pembacaan mereka terhadap akar penindasan.

Rosa Luxemburg, salah satu tokoh feminis paling berpengaruh di abad ke-20, Clara Zetkin di Jerman, misalnya mengidealkan emansipasi perempuan dalam kerangka pembebasan terhadap patriarki dan kapitalisme yang satu ranjang. Tentu bukan hanya merekasaja yang berpendapat demikian, masih banyak para pemikir feminis surupa yang menentang partiarki dan kapitalis bercumbu mesra.

Seiring mengguritanya sistem ekonomi baru dalam setiap lini kehidupan masyarakat, emansipasi ideal perempuan semakin mengalami keabsurdan. Keabsurdan tersebut semakin kentara tatkala emansipasi perempuan lama-kelamaan memilih ‘menyesuaikan diri’ dengan karangka sistem tersebut.

Salah satu yang terasa sangat wajar adalah konsumerisme. Emansipasi ideal perempuan bukan lagi ditentukan oleh pembacaan mereka terhadap realitas, tetapi ditentukan oleh ‘selera pasar’. Cita-cita emansipasi pun mengalammi perubahan, bukan lagi membebaskan perempuan dari patriarki dan tekanan sosial, tapi justru membebaskan perempuan dari beban ‘tidak bisa membeli ini dan itu’.

Maka tak heran jika CNN.com pada tahun 2014 dalam narasinya yang berjudul “Wanita: Penyelamat Ekonomi Dunia? menulis, “kekuatan ekonomi yang tumbuh paling pesat di dunia bukanlah Cina atau India, melainkan perempuan. Daya beli perempuan diseluruh dunia diperkirakan mencapai $18 triliun pada tahun 2014.

Saat itu, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan akan terus meningkat hingga $5 triliun. Angka tersebut dua kali lipat lebih besar dari PDB gabungan Cina dan India di tahun itu”. Maka, pernyataan Nina power dalam bukunya yang berjudul One Dimensional Woman menemukan tempatnya.

Ia beranggapan, feminitas kontemporer diilusi oleh ideologi konsumerisme, dimana hak untuk memilih kebahagiaan sangat dibatasi oleh ideologi konsumerisme. Kebahagiaan perempuan hanya ditentutkan oleh sebarapa mampu ia membeli dan mengakses trend pasar, membeli lebih banyak barang, dan melakukan hal-hal aneh lain dari teologi romantisme yang di tawarkan sistem ekonomi baru ini.

Komodifikasi Tubuh Perempuan
Jika dahulu iklan dan industri hiburan menjadi alat utama dalam membentuk imaji perempuan, hari ini media sosial mengambil alih tubuh perempuan. Platform digital yang tampak netral dan “memberi ruang ekspresi” justru menjadi arena baru komodifikasi tubuh perempuan yang bekerja secara diam-diam.

Zaman ini, media sosial menciptakan standar visual yang nyaris seragam. Perempuan didorong untuk menampilkan dirinya sesuai dengan algoritma yang menguntungkan. Semakin menarik secara visual, semakin tinggi eksposur yang didapat. Dalam situasi ini, tubuh perempuan perlahan bergeser menjadi “aset digital” dan objek yang dapat dipertukarkan popularitas, bahkan keuntungan ekonomi.

Yang problematis, praktik ini sering dibungkus dengan narasi kebebasan. Padahal, di balik itu semua terdapat mekanisme pasar yang bekerja mengubah tubuh menjadi komoditas. Menjadikan perempuan menjadi subjek sekaligus objek dalam sistem tersebut.

Tanpa disadari, perempuan hanya mengonsumsi standar yang diciptakan pasar. Di sinilah jebakan paling halus itu bekerja terus bekerja, ketika eksploitasi tidak lagi terasa sebagai paksaan, melainkan sebagai pilihan yang tampak sadar. Lebih mirisnya, kadang yang tampilkan bukan untuk sekedar hiburan, tetapi like dan komentar dengan menormalisasi tubuh yang menjadi objek pornografi.

Nina Power dalam bukunya juga mengartikan industri pornografi sebagai industri yang sangat masif dan secara bersamaan menggeser makna dari seks sebagai seseuatu yang berada di luar manusia dan hubungan sosial.

Terkait hal itu, Beatrix Cambell juga membahas mengenai industri pornografi. Ia mengungkapkan bahwa PSK akan terus ada sejauh masih ada seksisme, dimana ideologi pasar telah menjadi metafora bagi kehidupan. PSK sendiri adalah wujud dari erotic capital yang menunjukan hubungan yang erat antara partiarki dan kapitalisme.

*Sitti Nor Alinda, kerap disapa Linda lahir dan besar Sumenep. Saat ini, ia berusaha menyelesaikan skripsinya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bahauddin Mudhary Madura (UNIBA).

Komentar