Sumenep, porosbaru.com : Memasuki awal Ramadan 1447 Hijriah, Kabupaten Sumenep mencatat angka inflasi tertinggi di Jawa Timur pada bulan Februari 2026.
Berdasarkan berita resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, inflasi Sumenep secara tahunan (yoy) mencapai 6,37 persen dengan Indeks Harga Konsumen 115,44.
Kepala BPS Sumenep, Handoyo Wijoyo, SST menjelaskan, penyumbang utama inflasi tahunan berasal dari Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya sebesar 2,62 persen, lalu Kelompok Perumahan, Air, Listrik dan Bahan Bakar Rumah Tangga sebesar 1,91 persen, serta Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau 1,53 persen.
Menurutnya komoditas penyumbang andil terbesar dalam kelompok tersebut ialah emas perhiasan sebesar 2,53 persen, lalu tarif listrik 1,76 dan beras 0,33 persen.
“Komoditas emas perhiasan dan tarif listrik yang non-subsidi menjadi dua penyumbang terbesar inflasi tahunan di Sumenep,” jelasnya, Selasa (03/03).
Tidak hanya itu, Handoyo mengungkapkan secara bulanan (mtm) Sumenep juga mengalami inflasi sebesar 1,08 persen.

Jika dibandingkan bulan sebelumnya (Januari) meningkat 0,34 persen. Bahkan secara tren, lebih tinggi dari periode yang sama selama tiga tahun terakhir.
“Komoditas penyumbang andil inflasi Februari 2026 mtm cabe rawit 0,25 persen, daging ayam ras 0,12 persen, dan sigaret kretek mesin sebesar 0,06 persen,” tambahnya.
Ia juga menerangkan kenaikan harga cabai rawit karena faktor indikasi hama dan peningkatan permintaan menjelang Ramadan.
“Nanti coba konfirmasi lagi ke Dinas Pertanian. Kalo tidak salah karena hama dan permintaan bulan ramadan meningkat. Sehingga, tidak sebanding dengan ketersediaan,” paparnya.
Kendati demikian, Ia menjelaskan inflasi tidak selalu memberi dampak terhadap turunnya daya beli masyarakat.
“Harus dilihat dulu kelompok penyumbang nya. Karena emas menjadi penyumbang terbesar, dampaknya tidak langsung dirasakan secara luas oleh masyarakat,” ungkapnya.
Dengan begitu, inflasi Sumenep lebih tinggi dari inflasi Jawa Timur yang berada di angka 4,88 persen, serta inflasi nasional sebesar 4,76 persen.
Media ini sudah menghubungi TPID Sumenep, Dadang Dedy Iskandar. Namun, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait. (Aditya/Red).







Komentar