Warga Sumenep Lihat Asap Tebal, BMKG Ungkap Alasan dan Ancamannya

Aditya Apriyanto
Karhutla Sumenep: BMKG Tronojoyo jelaskan potensi dan acaman.
Tangkapan layar dari akun Tiktok @its.bie_3 yang menyebut asap Karhutla Kalimantan telah sampai di Madura. (istimewa)

Sumenep, Porosbaru.com : Sebuah video yang diunggah salah satu akun TikTok memperlihatkan kondisi udara yang disebut berada di wilayah Sumenep tampak diselimuti asap tebal mendadak viral dan memicu beragam komentar dari warga net.

Dalam unggahannya, pemilik akun menyebut asap yang terlihat di Sumenep diduga merupakan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan yang terbawa hingga wilayah Madura.

“Asap Karhutlah Kalimantan sudah sampai di Madura, Jawa Timur. Semoga cepat membaik Indonesiaku,” tulisnya dalam video tersebut, Selasa (20/10/2026).

Menanggapi fenomena itu, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Trunojoyo Ari Widjajanto, mengatakan penentuan sumber asap perlu mempertimbangkan lokasi dan waktu kemunculannya.

Menurutnya, kemungkinan asap karhutla dari Kalimantan mencapai Madura sangat kecil karena pola angin masih didominasi angin timuran.

“Kalau memang betul asap dari Kalimantan, sangat kecil kemungkinannya karena pergerakan angin saat ini mengarah ke barat hingga barat laut. Jadi, kecil kemungkinan asap itu melewati Jawa,” kata Ari kepada Porosbaru.com, Rabu (21/10/2026).

Ari menjelaskan, fenomena yang terlihat seperti asap pada pagi hari sebelum matahari terbit juga bisa berupa kabut.

Kondisi itu dapat terjadi akibat kelembapan udara dan proses pengembunan pada malam hari.

“Kalau terjadi pada pagi hari sebelum matahari terbit, terkadang muncul kabut akibat kelembapan udara dan proses pengembunan pada malam hari,” jelasnya.

Meski demikian, Ari tidak menutup kemungkinan asap bisa jadi berasal dari kebakaran lahan lokal di Madura.

Ia menyebut, kebakaran hutan juga terjadi di sejumlah wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, termasuk kawasan pegunungan dan konservasi.

“Beberapa hari yang lalu kami memantau kebakaran hutan yang cukup masif di Jawa Tengah. Di Jawa Timur juga banyak terjadi kebakaran hutan di daerah pegunungan dan kawasan konservasi,” ujarnya.

Khusus di Sumenep, pola angin dari tenggara secara teoritis memungkinkan massa udara bergerak dari wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) atau Nusa Tenggara Timur (NTT).

Namun, Ari menyebut belum ada indikasi kebakaran di wilayah tersebut yang dapat dipastikan menjadi sumber asap kiriman ke Madura.

“Kalau melihat pola angin timuran saat ini, massa udara bisa berasal dari wilayah tenggara, seperti Nusa Tenggara Barat atau Nusa Tenggara Timur. Namun, tidak ada kebakaran hutan di wilayah tersebut yang bisa dipastikan menjadi sumber asap kiriman ke Madura, khususnya Sumenep,” jelasnya.

Di sisi lain, Ari mengingatkan masyarakat agar mewaspadai cuaca panas, kelembapan udara rendah, dan minimnya tutupan awan yang diprediksi akan berlangsung hingga penghujung tahun ini.

Menurutnya, dengan kondisi udara yang kering dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

“Masyarakat perlu mewaspadai kebakaran lahan, kebakaran hutan, maupun kebakaran lainnya karena kondisi udara cukup kering,” tegasnya.

Selain itu, Ari juga menekankan menjaga kesehatan di kondisi kemarau panjang seperti saat ini.

Menurutnya warga perlu mengurangi aktivitas di luar ruangan jika tidak mendesak serta mencukupi kebutuhan air minum untuk mencegah dehidrasi akibat suhu tinggi.

“Selain itu saya juga menghimbau kepada masyarakat agar sebisa mungkin masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah dan menghindari dehidrasi. Cukupi kebutuhan air minum agar kondisi tubuh tetap terjaga,” tandas Ari. (dty/rd).

Terkait

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *