14 Hari Pemadaman Bergilir di Gili Iyang, Warga Ancam Gelar Demo

Aditya Apriyanto
Di Gili Iyang, Sumenep, terjadi pemadaman listrik bergilir hari ini
Suasana di salah satu rumah warga Gili Iyang, Sumenep, saat pemadaman listrik bergilir berlangsung sejak 09-28 Oktober 2026. (porosbaru.com/dtya).

Sumenep, Porosbaru.com : Sejumlah warga di Pulau Gili Iyang, Dungkek, Sumenep, mengeluhkan pemadaman listrik bergilir sejak Jumat (09/10/2026) hingga hari ini Kamis (22/10/2026).

Aji Ainur Rofiqi, warga setempat sekaligus anggota Forum Transvaluasi Warga Gili Iyang (Foting) menuturkan, kondisi tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga merugikan pelaku usaha.

“Kerugian jelas ada, terutama bagi penggerak usaha, karena ketika PLTD padam mereka harus ngeluarin uang solar lagi untuk mesin pribadinya,” ujar Aji kepada Porosbaru.com, Rabu (21/10/2026).

Selain kerugian operasional, menurutnya warga juga mengeluhkan potensi kerusakan sejumlah alat elektronik akibat pemadaman.

Aji mencontohkan AC dan Kulkas di salah satu masjid yang menurut keterangan tukang servis diduga mengalami kerusakan akibat ketidakstabilan pasokan listrik.

“Terus ada kerugian kerusakan elektronik seperti AC, kulkas dll. Di salah satu masjid, AC rusak dan menurut hasil diagnosanya karena ketidakstabilan listrik (sering padam),” imbuhnya.

Aji menyebut kondisi tersebut bukan kali pertama dirasakan masyarakat Gili Iyang. Pemadaman bergilir kerap terjadi dan dinilai amat mengganggu aktivitas warga bertahun-tahun.

Ia menilai kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang dinilai tidak sebanding dengan kebutuhan listrik warga di Gili Iyang menjadi biang kerok yang melanda warga bertahun-tahun.

“Karena masalahnya sekarang itu mesinnya tidak kuat, nggak bisa diandalkan untuk memenuhi pasokan listrik dengan banyaknya penyambung hari ini,” jelas Aji.

Sejatinya, lanjut Aji, persoalan kapasitas mesin tersebut sebenarnya telah dibahas dalam audiensi antara Foting dengan ULP PLN Sumenep pada November 2025.

Menurutnya salah satu yang menjadi kesepakatan dalam empat poin tuntutan Foting yakni, penambahan mesin pembangkit untuk memperkuat pasokan listrik di pulau tersebut.

Namun, Aji mengatakan kesepakatan empat poin, termasuk penambahan mesin PLTD hanya menjadi kabar burung semata hingga hari ini.

“Tidak ada yang dilaksanakan sama sekali. Termasuk penambahan atau pergantian mesin yang memadai untuk menopang kebutuhan pasokan listrik,” ujarnya.

Akibat kondisi serupa yang kembali terjadi, imbuh Aji, warga kembali mempertanyakan kesepakatan audiensi dan meminta ULP PLN  Sumenep segera memberikan solusi permanen.

Ia berharap penambahan atau pergantian mesin pembangkit segera direalisasikan agar kapasitas listrik mampu memenuhi kebutuhan pelanggan.

“Kami berharap ada solusi yang benar-benar menyelesaikan persoalan ini. Jangan setiap ada peningkatan kebutuhan listrik, masyarakat kembali menghadapi pemadaman. Warga sudah terlanjur kecewa terhadap janji manis ULP PLN Sumenep,” harapnya.

Selain itu, ia juga mendesak Pemkab Sumenep ikut turun tangan, mengingat listrik menjadi kebutuhan dasar yang menunjang aktivitas dan perekonomian warga.

Ia mengatakan, warga kini menyiapkan langkah lanjutan berupa demonstrasi dengan kepulauan lain jika persoalan tersebut tidak segera mendapat penyelesaian dari pihak terkait.

“Rencana jalan terakhirnya adalah demonstrasi aliansi pemuda pulau. Ini lagi konsolidasi ke pulau-pulau lainnya yang ada di Kabupaten Sumenep, karena kami punya permasalahan yang sama tentang kelistrikan,” tegas Aji.

Sementara itu, Manajer PLN ULP Sumenep Achmad Suaidi menjelaskan, pemadaman bergilir di Pulau Gili Iyang terjadi akibat adanya kendala teknis pada salah satu mesin pembangkit.

Menurutnya kondisi tersebut membuat kapasitas pembangkit yang beroperasi belum mampu memenuhi kebutuhan listrik, terutama saat beban puncak.

“Untuk menjaga kestabilan sistem, PLN melakukan penyesuaian aliran listrik secara bergantian pada sejumlah wilayah secara terbatas,” papar Achmad kepada Porosbaru.com, Kamis (22/10/2026).

Ia menyampaikan permohonan maaf atas dampak pemadaman terhadap aktivitas masyarakat, termasuk pelaku usaha.

PLN, kata Achmad, terus berupaya mempercepat penanganan agar pelayanan kelistrikan kembali normal.

“Kami memahami kondisi dan dampaknya terhadap aktivitas masyarakat, termasuk pelaku usaha. Kami menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi dan terus berupaya mempercepat penanganan agar pelayanan kelistrikan kembali normal,” ujarnya.

Terkait tuntutan warga dalam audiensi November 2025, Achmad menyatakan aspirasi tersebut tetap menjadi perhatian PLN.

Pihaknya terus berkoordinasi dengan unit terkait mengenai kebutuhan penguatan kapasitas pembangkit dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan sistem kelistrikan Gili Iyang.

“PLN memprioritaskan pemulihan mesin pembangkit yang mengalami kendala, mengoptimalkan pengoperasian dan pemeliharaan mesin yang tersedia, serta terus berkoordinasi dengan unit terkait dalam upaya meningkatkan keandalan kelistrikan Gili Iyang,” tegas Achmad.

Ia kembali menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan masyarakat dan meminta dukungan agar proses pemulihan berjalan baik.

Menurutnya saat ini pihaknya tengah memprioritaskan penyebab pemadaman, upaya pemulihan, dan tindak lanjut atas aspirasi warga dengan unit terkait agar persoalan di Gili Iyang segera diselesaikan.

“Sekali lagi, kami menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan masyarakat. Kami mohon doa dan dukungan agar upaya pemulihan dapat berjalan dengan baik,” tandasnya. (dty/rd).

Terkait

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *