Inflasi Sumenep Januarai 2026 Tertinggi Di Jatim, Ini Kata TPID

Sumenep, porosbaru.com : Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur kembali menobatkan inflasi Sumenep menjadi yang tertinggi sejak satu tahun terakhir.

Hingga bulan Januari 2026, Inflasi tahunan (yoy) Sumenep mencapai 5,06 persen dengan Indek Harga Konsumen (IHK) 114,21.

Angka tersebut menempatkan Inflasi Sumenep tertinggi melampaui rata-rata kenaikan harga di Jawa Timur sebesar 3,29 persen.

BPS mencatat, kenaikan harga terjadi pada komoditas listrik, emas perhiasan dan beras serta kebutuhan konsumsi masyarakat lainnya.

Meski terdapat penurunan atau deflasi sepanjang tahun (ytd) sebesar 0,20 persen di Jawa Timur, Sumenep justru mengalami kenaikan sekitar 0,34 persen.

Menanggapi kondisi tersebut, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumenep, Dadang Dedy Iskandar, memastikan kenaikan harga hanya di komoditas tertentu.

Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumenep, Dadang Dedy Iskandar, saat ditemui di ruangan kerjanya.
Dadang Dedy Iskandar memastiakn kenaikan harga hanya di komoditas tertentu. (Foto: porosbaru.com/Aditya).

Menurutnya, harga emas perhiasan dan pembayaran listrik non subsidi di bulan Januari menjadi biang keladi inflasi Sumenep terlampau tinggi dari daerah lainnya di Jawa Timur.

“Warga cukup tinggi dalam pembelian eman perhiasan. Tahun lalu listrik mendapat subsidi, sekarang tidak. Itu yang mendorong kenaikan,” ujarnya, Jumat (13/02).

Kendati harga beras juga mengalami kenaikan, Dadang memantau di beberapa pasar harga beras relatif stabil dan tidak menunjukan lonjakan yang tajam.

Ia menilai senadainya tanpa komponen emas dan perubahan tarif listrik, kenaikan di Janurai 2026 bisa berada dikisaran dua persen.

Namun, kata Dadang, pihaknya akan memantau dan mengendalikan perkembangan kenaikan bahan pokok guna mencegah lonjakan harga yang tinggi.

“Tadi pagi Bupati memimpin bersama Forkopimda mengecek ke pasar Anom dan harganya masih rasional. Meskipun ada kenaikan,” pungkasnya.

Ia berharap kepada masyarakat kota Keris agar berbelanja dengan bijak dan tidak menimbun guna menjaga stok dan kenaikan harga. (Aditya/Red)

Komentar