Sumenep, Porosbaru.com : Mata Agam Satria Naraenda (17) dan Radif Gibran Hamzah Prawira (17) berkaca-kaca saat siluet gedung pencakar langit Jakarta menembus mobil mereka.
Kedua siswa SMAN 1 Sapeken, Sumenep, itu tidak menyangka akan lolos dalam ajang pretisius pogram pengembangan generasi muda berwawasan dunia: Global Future Network (GFLN).
Bagi kedua pemuda ujung timur Provinsi Jawa Timur tersebut, mimpi akan akan lolos dalam kompetisi nasional seringkali lebih cepat kandas di bibir pantai, sebelum menepi ke daratan.
“Saya senang sekali bisa ke Jakarta melalui program GFLN ini. Perjalanan kami cukup menantang, mulai dari Sapeken ke Pagerungan Besar, lalu terbang ke Surabaya hingga Jakarta. Gedung-gedung pencakar langit ini menginspirasi kami,” kenang Adam, tersenyum tipis.
Menembus Isolasi Geografis
Meski tumbuh di pulau terpencil, keterbatasan akses geografis dan materi tidak membuat keduanya berhenti bermimpi menembus ketidakwajaran.
Berkat kerjasama sekolah dengan SKK Migas Kangean Energi Indonesia (KEI), mereka terpilih dari tiga siswa lainnya yang mendaftar mewakili sekolah.
“Terimakasih kepada SKK Migas KEI. Jarang sekali anak kepulauan seperti kami bisa merasakan pengalaman ke kota besar, apalagi sampai naik pesawat gratis,” imbuh Adam. Sumringah.
Kendati demikian, jalan menuju program bergengsi itu tidaklah mudah, Agam dan Radif sebelum dinyatakan lolos harus mengikuti proses seleksi yang ketat.
Bahkan berbagai materi seperti kemampuan memahami perbedaan, menjadi warga global aktif, serta penguatan kepemipinan dilahap habis sebelum ke Jakarta.
Di Ibu Kota pun mereka tidak hanya termenung menikmati indahnya kota.
Selama lima hari (15-20/06), keduanya mengunjungi intitute strategis, seperti kantor SKK Migas, Museum Nasional, Universitas Indonesia, hingga fasilitas pengelolahan limbah berstrandar internasional.
“Banyak pelajaran yang kami dapatkan. Semua dikemas dengan cara menyenangkan seperti kuis, outing, dan mini games,” tutur Radif.
Bekal Introspeksi Diri
Namun, berada di panggung nasional dan menjadi perwakilan sekolah atau bahkan kampungnya tidak lantas membuat keduanya jumawa.
Nasehat ibu dan bapak di balik layar setiap pagi justru menjadikan perjalanan Agam sebagai ruang refleksi.
“Tapi saya merasa masih banyak kekurangan, namun dari pengalaman ini , saya bisa berintropeksi diri untuk menjadi pemimpin yang lebih baik ke depan,” jelas Agam, pelan.
Kisah Agam dan Radif menjadi gambaran bahwa keterbatasan wilayah bukan akhir dari segalanya.

Keduanya membuktikan, derasnya ombak dan angin laut samudra tidak akan menenggalamkan mimpi-mipi anak kepulauan. (Red/Adity).
Porosbaru.com berkomitmen menghadirkan berita yang aktual, berimbang, dan terpercaya. Dukung jurnalisme berkualitas dengan Pasang iklan Anda di Porosbaru sekarang .










Komentar