Sumenep, Porosbaru.com : Badan Pusat Statistik (BPS) Sumenep mencatat Inflasi Sumenep pada Oktober 2026 secara bulanan (m-to-m) sebesar 0,11 persen, turun dibandingkan September yang mencapai 0,28 persen.
Adapun secara tahunan (y-to-y) inflasi Sumenep tercatat 3,32 persen, turun dari 3,85 persen pada September 2026, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) berada di level 116,49. Sedangkan inflasi tahun kalender (y-to-d) hingga Oktober mencapai 2,35 persen.
Kepala BPS Sumenep Handoyo Wijoyo menerangkan, perlambatan tersebut menunjukkan tekanan kenaikan harga barang dan jasa di tingkat konsumen mulai berkurang, meski sejumlah komoditas pangan masih menjadi sumber tekanan inflasi.

“Tekanan inflasi pada Oktober 2026 memang melandai dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, beberapa komoditas pangan masih memberikan tekanan, terutama beras, cabai merah, tomat, dan mentimun,” terang Handoyo kepada Porosbaru.com dalam keterangan tertulis, Selasa (03/11/2026).
Beras Jadi Salah Satu Pendorong Inflasi
Menurutnya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan Oktober 2026 dengan andil 0,09 persen.
Ia menyebut komoditas beras menyumbang andil terbesar, yakni 0,10 persen, disusul cabai merah 0,05 persen, tomat 0,03 persen, dan mentimun 0,02 persen dalam kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
“Dari kelompok tersebut, beras memberikan andil terbesar sebesar 0,10 persen, kemudian cabai merah 0,05 persen, tomat 0,03 persen, dan mentimun 0,02 persen,” jelas Handoyo.
Selain itu, kenaikan harga beras juga menjadi salah satu faktor yang mendorong inflasi Sumenep secara tahunan.
BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 5,51 persen dengan andil terbesar terhadap inflasi umum, yakni 1,91 persen.
Handoyo menyebut, kenaikan harga beras berkaitan dengan periode tanam pada musim kemarau yang menghasilkan panen lebih rendah dibandingkan musim tanam utama pada musim hujan.
“Untuk beras, kenaikan harganya berkaitan dengan periode tanam pada musim kemarau yang menghasilkan panen lebih rendah dibandingkan musim tanam utama pada musim hujan,” ungkapnya.
Daging Sapi, Minyak Goreng dan Cabai Rawit Ikut Menekan
Di sisi lain daging sapi juga memberikan andil inflasi 0,26 persen, sedangkan minyak goreng dan cabai rawit masing-masing menyumbang 0,20 persen terhadap inflasi tahunan Sumenep.
Handoyo menyebut, kenaikan harga daging sapi dipengaruhi meningkatnya harga sapi, sementara permintaan terhadap komoditas tersebut masih tinggi.
Sementara minyak goreng, baik minyak goreng bermerek maupun Minyakita, mengalami kenaikan harga akibat meningkatnya harga di tingkat distributor.
Adapun cabai rawit mengalami kenaikan karena pasokan yang terbatas akibat produksi yang menurun pada Oktober 2026.
“Kenaikan harga daging sapi dipengaruhi meningkatnya harga sapi dan permintaan yang masih tinggi. Sementara minyak goreng mengalami kenaikan akibat meningkatnya harga di tingkat distributor. Untuk cabai rawit, kenaikannya dipengaruhi keterbatasan pasokan akibat produksi yang menurun pada Oktober,” jelas Handoyo.

Selain itu, tekanan inflasi Sumenep tidak hanya berasal dari komoditas pangan. Harga emas perhiasan dan kelompok makanan dan minuman/retoran juga turut menjadi pendorong inflasi tahunan Sumenep.
BPS mencatat emas perhiasan mengalami inflasi 7,55 persen secara tahunan dengan andil sebesar 0,34 persen terhadap inflasi Sumenep.
Sedangkan, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran memberikan andil 0,33 persen, dengan komoditas yang dominan dalam kelompok ini antara lain nasi dengan lauk dengan andil 0,22 persen, es 0,05 persen, bakso siap santap 0,03 persen, dan pecel 0,02 persen.
Sejumlah Komoditas Justru Mengalami Penurunan
Menariknya, di tengah kenaikan sejumlah komoditas, beberapa bahan pangan justru mengalami penurunan harga sepanjang Oktober 2026.
BPS Sumenep mencatat penurunan harga terjadi pada ayam ras, telur ayam ras, semangka, udang segar, bawang putih, bayam, kentang, cumi-cumi, ikan kembung, hingga cabai rawit.
Handoyo menilai penurunan harga komoditas tersebut turut menahan laju inflasi bulanan Sumenep sehingga berada pada level 0,11 persen.
“Penurunan harga sejumlah komoditas tersebut turut membantu menahan tekanan inflasi pada Oktober 2026,” ujarnya.
Inflasi Sumenep Tertinggi Ketiga di Jawa Timur
Meski mengalami sejumlah penurunan, Handayo menyebut inflasi tahunan Sumenep pada Oktober 2026 sebesar 3,32 persen berada di posisi ketiga tertinggi di Jawa Timur, setelah Kota Madiun dan Kota Surabaya.
Sementara secara bulanan, inflasi Sumenep sebesar 0,11 persen berada di posisi keempat tertinggi di Jawa Timur.
“Meski mengalami perlambatan, inflasi tahunan Sumenep pada Oktober 2026 sebesar 3,32 persen masih menjadi yang tertinggi ketiga di Jawa Timur setelah Kota Madiun dan Kota Surabaya. Sementara secara bulanan, inflasi Sumenep sebesar 0,11 persen menempati posisi keempat tertinggi di Jawa Timur,” tutur Handoyo.
Menurutnya, turunnya inflasi tahunan dari 3,85 persen pada September menjadi 3,32 persen pada Oktober tidak berarti harga barang dan jasa secara umum mengalami penurunan.
Kondisi tersebut, imbuh Handoyo, menunjukkan laju kenaikan harga lebih lambat dibandingkan bulan sebelumnya. Dengan kata lain, harga masih meningkat, tetapi kecepatannya mulai berkurang.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa harga masih mengalami kenaikan, tetapi lajunya lebih lambat dibandingkan bulan sebelumnya,” tandasnya. (dty/rd)










Tidak ada Respon