Porosbaru.com : Sorotan publik terhadap pengelolaan anggaran negara kali ini tertuju pada Badan Gizi Nasional (BGN) yang beberapa hari terakhir memunculkan sejumlah kekhawatiran dan pertanyaan.
Apakah belanja negara benar-benar disusun berdasarkan kebutuhan prioritas, atau justru terjebak pada keputusan yang jauh dari rasa urgensi publik?
Anggaran pembelian sepeda motor listrik dengan nilai mencapai sekitar Rp1,2 triliun tidak hanya mereduksi tujuan efisiensi, tetapi juga menikam rasa keadilan ketika belanja seperti pendidikan dan infrastruktur justru terpinggirkan.
Kegelisahan semakin menguat ketika muncul pernyataan dari Menteri Keuangan, Purbaya, yang mengaku tidak mengetahui penganggaran tersebut. Pernyataan ini sontak mengejutkan. Bagaimana mungkin program triliunan rupiah tidak sepenuhnya terpantau oleh otoritas fiskal tertinggi?
Kegelisahan belum mereda, muncul pula anggaran pengadaan kaus kaki sebesar Rp6,9 miliar. Nilai ini mungkin lebih kecil dibandingkan pengadaan sepeda motor listrik, tetapi dalam situasi kebutuhan dasar yang mendesak, belanja tanpa urgensi jelas berpotensi memperlebar jarak antara kebijakan dan realitas publik.
Besarnya anggaran tanpa kejelasan informasi adalah kombinasi berbahaya bagi kepercayaan publik. Anggaran triliunan untuk sepeda motor listrik dan miliaran untuk kaus kaki harus dijelaskan secara terbuka.
Publik tidak hanya menuntut transparansi, tetapi juga akuntabilitas nyata. Audit menyeluruh, independen, dan transparan menjadi langkah yang tidak bisa ditawar untuk memastikan setiap rupiah benar-benar berpihak pada kepentingan masyarakat.







Komentar