Inflasi Sumenep Maret 2026 Tertinggi Di Jatim, Apa Penyebabnya?

Sumenep, Porosbaru.com : Badan Pusat Statistik (BPS) Sumenep kembali merilis rekapitulasi inflasi Sumenep di bulan Maret 2026 pada Rabu, (01/04), lalu.

Dalam rilis tersebut, Sumenep kembali menduduki peringkat teratas se-Jawa Timur dengan perolehan inflasi sebesar 5,31 persen dan IHK 116,47 secara tahunan (yoy).

Secara bulanan (mtm), inflasi Sumenep pada Maret 2026 sebesar 0,89 persen, lebih rendah dibandingkan Februari yang mencapai 1,08 persen.

Andil kenaikan harga (mtm) didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,76 persen, disusul kelompok penyediaan makanan dan minuman restoran 0,20 persen, serta andil transportasi sebesar 0,05 persen.

Kepala BPS Sumenep, Handoyo Wijoyo menjelaskan, Komoditas seperti sigaret kretek mesin menyumbang 0,12 persen, daging ayam ras 0,11 persen, dan beras 0,08 persen.

Selain itu, konsumsi makanan jadi seperti nasi dengan lauk juga memberi andil cukup besar sebesar 0,18 persen.

Sementara itu, sektor transportasi turut memberikan tekanan akibat meningkatnya arus mudik, yang berdampak pada kenaikan tarif kendaraan travel (0,02%), bensin (0,02%), dan angkutan antar kota (0,01%).

Secara tahunan (yoy), Handoyo menegaskan faktor paling dominan berasal dari emas perhiasan yang menyumbang inflasi hingga 2,20 persen, atau hampir setengah dari total inflasi Sumenep.

“Dibandingkan Maret 2025, harga emas meningkat sekitar 66,44 persen. Ini yang membuat inflasi Sumenep terdorong cukup tinggi,” jelas Handoyo dalam siaran pers, Kamis (02/04), malam.

Selain itu, tarif listrik juga menjadi penyumbang inflasi tahunan dengan andil 0,62 persen, dipengaruhi oleh normalisasi tarif setelah sebelumnya masyarakat menikmati diskon pada tahun 2025.

Handoyo menegaskan, tingginya inflasi Sumenep dibanding daerah lain bukan semata-mata karena harga lebih mahal, melainkan karena perbedaan pola konsumsi masyarakat.

“Bobot komoditas di Sumenep berbeda dengan daerah lain. Pengeluaran terhadap emas perhiasan relatif besar, sehingga ketika harga emas naik, inflasi di Sumenep ikut terdongkrak lebih tinggi,” ujarnya.

Ia juga menilai bahwa dampak inflasi yang terjadi tidak selalu langsung dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama jika pemicunya bukan kebutuhan primer.

Kendati demikian, ia mengingatkan pentingnya menjaga inflasi tetap stabil. Inflasi yang terlalu tinggi menurutnya dapat menekan daya beli, sementara deflasi justru berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi.

“Selama inflasi terkendali dan masyarakat masih mampu memenuhi kebutuhannya, itu menunjukkan daya beli tetap kuat dan ekonomi masih tumbuh,” pungkas Handoyo. (Aditya/Red).

Komentar