Beda Cara, Beda Rasa: Jalan Lima Mahasiswi UTM Raih Gelar Sarjana

Bangkalan, Porosbaru.com : Pagi itu, Tri Puspita Agustina mahasiswi Prodi PGSD dan keempat karibnya; Tri Wahyu Lestari, Ika Listya Widya, Lely Febrianti serta Desty Adelia mahasiswi Prodi PGPAUD justru mengenakan pakaian warna-warni.

Kelima mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas TrUnojoyo Madura (UTM) itu memilih menyelesaikan studi keguruannya dengan menari bersama para siswa-siswi TK hingga SD yang mereka rangkul berbulan-bulan.

Menurut Tria, memilih tugas akhir dalam bentuk karya produksi tari bukan keputusan yang datang begitu saja.

Baca Juga:

Kecintaannya pada seni, khususnya tari, mendorongnya mengambil jalur yang berbeda dari mayoritas mahasiswa yang memilih skripsi konvensional.

“Saya memang suka seni, terutama tari. Kalau skripsi mungkin sudah tidak asing lagi bagi mahasiswa, tetapi saya ingin tahu seperti apa proses karya produksi dan tantangan yang ada di dalamnya,” ujarnya kepada Porosbaru, Selasa (23/06).

Tria mengaku merasakan atmosfer berbeda dari penelitian akademik konvensional yang kerap dilanda ketegangan dan emosional kaku.

Kendati demikian, mahasiswi angkatan 2022 itu tidak lepas dari berbagai tantangan selama proses kreatif berlangsung.

Tria menuturkan harus menyusun konsep, mengeksplorasi gerak, berkoordinasi dengan penari, hingga memastikan gagasannya diterima oleh siswa-siswa yang ia imajinasikan sebagai peserta didiknya.

“Rasanya campur aduk. Stres saat konsep mentok. Pegal saat eksplorasi gerak. Namun haru ketika para penari bisa menerjemahkan isi kepala saya dan terbayar oleh tepuk tangan para orang tua beserta penonton,” tuturnya antusias.

Pagelaran Tugas Akhir Karya Produksi yang diikuti Tria dan empat rekannya itu merupakan tahun ketiga penyelenggaraan di lingkungan FKIP UTM.

Program tersebut memberi ruang bagi mahasiswa untuk menyelesaikan studi melalui karya kreatif sekaligus merasakan langsung proses mengajar dan membimbing peserta didik.

Pada tahun ini, Tria membawakan karya tari anak berjudul Ti Jatian. Sementara Lely Febrianti menampilkan lagu anak Sehat Tanpa Sampah, Tri Wahyu Lestari dengan tari Tokang Tongkok, Ika Listya Widya melalui lagu Aku Berani Menjaga Diri, serta Desty Adelia Rusman dengan tari Tor Cettor.

Wakil Rektor UTM, Surokhim, mengatakan skema ujian akhir dengan menciptakan karya seni pertunjukan bukan perkara mudah dibanding penyusunan skripsi.

Menurutnya, karya produksi memiliki nilai lebih karena memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa sekaligus manfaat bagi sekolah dan masyarakat.

“Karya seni ini memberikan dampak langsung untuk masyarakat, lembaga, dan sekolah,” ujarnya.

Meski keempat mahasiswi itu lulus dengan revisi, Surokhim bersama delapan dosen dan satu penguji eksternal, Soedarsono, mengapresiasi mahasiswa yang memilih jalur karya produksi sebagai tugas akhir.

Ia menilai model tugas akhir tersebut layak  dipertahankan dan terus dikembangkan dengan menghadirkan lebih banyak inovasi dari mahasiswa.

Bahkan, dalam penampilan yang berlangsung di Gedung Pertemuan UTM tidak hanya menampilkan karya kelima mahasiswi akhir itu.

Setelah sesi ujian berakhir, sebanyak 35 mahasiswa semester empat dan enam juga ambil bagian bersama siswa-siswa menampilkan berbagai kreasi tari.

Selain itu, juga terdapat pameran media pembelajaran, lukisan, kerajinan tangan, dan makanan bergizi untuk anak. Semua yang hadir tampak menikmati suasana layaknya museum seni.

Bagi Tria, pengalaman itu meninggalkan pelajaran berharga tentang dunia pendidikan. Menurutnya, dunia pendidikan tidak selalu dibangun melalui laporan penelitian yang tebal. Kadang, ia tumbuh dari keberanian mencoba sesuatu yang baru.

“Jangan takut mencoba hal baru. Siapa tahu hal baru itu justru lebih asyik daripada yang biasa kita lakukan,” pungkasnya. (Red/Aditya)

Porosbaru.com berkomitmen menghadirkan berita yang aktual, berimbang, dan terpercaya. Dukung jurnalisme berkualitas dengan Pasang iklan Anda di Porosbaru sekarang .

IKLAN
Slot Iklan Tersedia

Komentar