BPS : Lulusan Universitas Penyumbang Pengangguran Tertinggi Di Jawa Timur

Sumenep, Porosbaru.com : BPS Jawa Timur mencatat lulusan perguruan tinggi menjadi kelompok dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi (TPT) di Jawa Timur pada periode Februari 2026.

“Pada Februari 2026, TPT tamatan Universitas (S1/S2/S3) merupakan yang paling tinggi dibanding tamatan jenjang pendidikan lainnya, yaitu sebesar 6,04 persen,” tulis BPS Jawa Timur dalam rilis mereka, Selasa (05/05).

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) sebesar 5,75 persen dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yakni 5,73 persen.

Sementara tingkat pengangguran paling rendah berasal dari kelompok tamatan Sekolah Dasar (SD) kebawah sebesar 1,32 persen dari total angkatan kerja di bulan Februari 2026 yang mencapai 25,14 juta orang.

Event
TIEC 2026: International Essay Competition

Kompetisi esai internasional. Daftar sebelum 16 Mei 2026.

Daftar Sekarang

“Jumlah angkatan kerja pada bulan Februari 2026 mencapai 25,14 juta orang. Angka ini bertambah 386,19 ribu orang dibandingkan dengan Februari 2025,” jelas BPS Jatim.

Secara umum kondisi TPT Jawa Timur tercatat 3,55 persen atau menurun 0,06 persen poin dibanding Februari 2025 (yoy) yang tercatat 3,61 persen, namun masih terdapat 892,64 ribu orang masih menganggur dari total angkatan kerja.

Berdasarkan wilayah dan jenis kelamin, TPT perkotaan yang sebesar 4,09 persen lebih tinggi dari pedesaan yang hanya 2,68 persen dengan dominasi TPT laki-laki 3,78 persen dan sedangkan perempuan 3,24 persen.

Selain itu, jumlah penduduk bekerja pada Februari 2026 tercatat sebanyak 24,25 juta orang atau meningkat 388,04 ribu orang dibandingkan tahun sebelumnya (yoy), dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yang juga mengalami kenaikan menjadi 74,78 persen.

Meski jumlah angkatan kerja meningkat, mayoritas tenaga kerja di Jawa Timur pada bulan Februari 2026 yang tercatat 64,44 persen berada pada kegiatan informal.

Sedangkan pekerja formal hanya 35,56 persen atau menurun 0,53 persen poin dibandingkan Februari 2025 (yoy).

“Pada Februari 2026, penduduk bekerja di Jawa Timur paling banyak berstatus buruh/karyawan/pegawai, yaitu sebesar 32,05 persen, sementara yang paling sedikit berstatus berusaha dibantu pekerja tetap dan dibayar, yaitu sebesar 3,51 persen,” papar mereka.

Lalu berdasarkan lapangan usaha, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan jumlah 7,70 juta orang atau 31,76 persen dari total pekerja. Posisi selanjutnya ditempati sektor perdagangan besar dan eceran (18,62 persen) serta sektor industri (14,38 persen).

Sementara berdasarkan tenggat waktu, sebanyak 62,81 persen pekerja di Jawa Timur merupakan pekerja penuh waktu dengan jam kerja minimal 35 jam per minggu. Sedangkan paruh waktu tercatat 30,52 persen serta setengah menganggur sebesar 6,67 persen.

BPS Jawa Timur menegaskan, angka di atas terdapat penyesuaian statistik berdasarkan Peraturan Badan Pusat Statistik (BPS) Nomor 7 Tahun 2025 dengan mengganti Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2020 secara bertahap ke KBLI 2025, termasuk pelaksanaan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sukernas) Februari 2026.

” Penerbitan Peraturan BPS Nomor 7 Tahun 2025 tentang KBLI 2025, BPS melakukan penyesuaian dengan mengganti KBLI  2020 secara bertahap menjadi KBLI 2025 pada seluruh kegiatan statistik, termasuk pelaksanan Sukernas Februari 2026. Sementara itu, pada kegiatan Sukernas Februari 2025 masih menggunakan KBLI 2020,” pungkas mereka. (Aditya/Red).

Porosbaru.com berkomitmen menghadirkan berita yang aktual, berimbang, dan terpercaya. Dukung jurnalisme berkualitas dengan Pasang iklan Anda di Porosbaru sekarang .

Komentar