Sumenep, Porosbaru.com : Kepala BPBD Sumenep Kamiluddin mendorong integrasi edukasi kebencanaan ke dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.
Upaya tersebut dilakukan melalui program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dan Madrasah Aman Bencana (Mabana) untuk membangun kesiapsiagaan peserta didik sejak dini.
Menurutnya pendidikan kebencanaan tidak harus menjadi mata pelajaran tersendiri, tetapi cukup memasukan materi kebencanaan di mata pelajaran yang sudah ada.
“Yang penting adalah bagaimana edukasi kebencanaan bisa terintegrasi dengan mata pelajaran yang sudah ada. Misalnya, melalui pelajaran geografi, PJOK, IPA, dan IPS, peserta didik dapat mempelajari penyebab kekeringan, mitigasi gempa bumi, hingga pertolongan pertama,” ujar Kamiluddin, Sabtu (24/10/2026).
Ia menilai pendekatan tersebut dapat membantu siswa mengenali berbagai potensi ancaman bencana sekaligus memahami langkah pencegahan dan penyelamatan diri ketika menghadapi keadaan darurat.
BPBD Sumenep Dorong Edukasi Bencana di Ekstrakurikuler
Selain melalui pembelajaran di kelas, Kamil menyebut, BPBD Sumenep juga mendorong penyampaian edukasi kebencanaan melalui kegiatan ekstrakurikuler.
“Pramuka dan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), misalnya, dapat menjadi sarana untuk memberikan pengetahuan sekaligus pengalaman praktis tentang kesiapsiagaan bencana,” imbuhnya.

Selain itu, Kamil turut menjelaskan, program SPAB dan Mabana mencakup tiga tahapan penanggulangan bencana, yakni prabencana, tanggap darurat, dan pascabencana.
Seluruh warga sekolah perlu memahami ketiga tahapan tersebut agar mampu mengambil tindakan yang tepat dalam setiap situasi.
Ia menegaskan, kesiapsiagaan harus dibangun sebelum bencana terjadi. Pengetahuan mengenai risiko bencana dan prosedur penyelamatan diri menjadi bekal penting untuk mengurangi dampak yang mungkin timbul.

Kamil juga berharap integrasi edukasi kebencanaan dalam pembelajaran dapat memperkuat kesiapsiagaan seluruh warga sekolah.
“Tujuannya agar lingkungan sekolah dan seluruh warga di dalamnya benar-benar aman. Jadi, bukan hanya bangunan sekolah, tetapi juga peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan,” tandasnya. (dty/rd)






Tidak ada Respon