Sumenep, Porosbaru.com : Aktivis lingkungan Sumenep, K. Dardiri Zubairi, mengingatkan masyarakat agar mewaspadai dampak investasi besar di Sumenep yang berpotensi mengancam ruang hidup masyarakat.
Pernyataan tersebut beliau sampaikan dalam diskusi Nonton Bareng (Nobar) filem “Pesta Babi” yang berlangsung di Kafe Tanean, Sumenep pada Jumat (22/05) malam.
Dalam forum tersebut, K. Dardiri menyoroti kemiripan pola investasi besar yang menurutnya diawali dengan regulasi pemerintah, sebelum proyek besar masuk ke daerah.
“Biasanya aturan hukumnya dulu, Perda atau Keputusan Pemerintah yang membolehkan investasi masuk. Setelah itu investor datang dan terjadi penguasaan lahan,” ujarnya saat sesi diskusi.
Ia menilai pola tersebut kerap memaksa masyarakat melepas tanah, alat produksi, hingga ruang hidup atas nama pembangunan dan Proyek Strategis Nasional (PSN), yang terjadi hampir di seluruh Indonesia.
K. Dardiri juga menyinggung rencana Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tembakau di Madura agar tidak mengorbankan masyarakat lokal, khususnya para petani.
“Kalau tanah-tanah petani hilang, alat produksi mereka hilang, akhirnya masyarakat hanya jadi buruh di tanah mereka sendiri,” imbuhnya.
Ia meminta semua lini sektor yang terlibat, baik Pemerintah Daerah maupun pendorong rencana tersebut berhati-hati membuka ruang investasi besar agar tidak hanya menguntungkan pemilik modal.
K. Dardiri menegaskan, investasi semestinya tetap memberi ruang bagi masyarakat untuk bertahan hidup dan mengelola lahan masyarakat secara mandiri.
“Investasi bagus untuk daerah, tapi yang seringkali luput dari perhatian, masyarakatnya tidak diperhatikan, akhirnya banyak terjadi penolakan,” tegasnya.
Tidak hanya itu, dalam diskusi K. Dardiri juga mengkritik keterlibatan negara dalam proyek investasi berskala besar.
Ia menilai negara saat ini tidak hanya sebagai regulator, tetapi ikut mempermudah kepentingan pemilik modal.
K. Dardiri bahkan menyoroti keterlibatan militer dalam proyek-proyek investasi yang menurutnya masuk terlalu jauh ke wilayah sipil sehingga ruang gerak sipil semakin menyempit.
“Negara sekarang aktif mendandani investor. Mulai perizinan sampai keterlibatan TNI seringkali terlihat dan kita rasakan hari-hari ini,” ucapnya.
Selain membahas investasi, K. Dardiri juga menjelaskan dampak ancaman kerusakan ekologis akibat pembukaan lahan besar-besan yang membabat hutan di berbagai wilayah Indonesia.
Menurutnya, hutan bukan sekedar sumber ekonomi masyarakat daerah, tetapi juga ruh ruang hidup, budaya, dan identitas sosial masyarakat Indonesia.
Ia turut menyebut kerusakan hutan akan memperparah pemanasan global karena hilangnya kemampuan alam menyerap karbon.
“Sekarang kita rasakan sangat panas padahal belum kemarau. Ketika hutan gundul, bukan cuma pohonnya yang hilang. Budaya dan cara hidup masyarakat juga ikut rusak dengan sendiri,” tegas K. Derdiri.
Sebagai penutup, K. Dardiri mengajak generasi muda lebih peduli akan isu lingkungan dan mulai aktif mengawasi kebijakan yang berdampak pada ekologi.
“Saya bersyukur malam ini yang hadir banyak Gen Z. Ini nanti bisa kalian pikirkan trobasan dan suarakan untuk mencegah dampak ini. Minimal jika tidak punya trobosan, jangan buat masalah baru,” pungkasnya.
Pantauan lapangan, Nobar filem “Pesta Babi” garapan Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dole itu berlangsung meriah hingga acara usai sekitar pukul 23.00.
Ratusan penonton dari berbagai kalangan hadir sejak petang untuk menyaksikan dan terlibat dalam Nobar filem “Pesta Babi” dan diskusi.
Selain K. Dardiri sebagai pembicara, juga terdapat Diaspora Muda Sumenep, Slamet Raharjo, Ketua Lapesdam PCNU Sumenep, Siswandi. (Aditya/Red).
Porosbaru.com berkomitmen menghadirkan berita yang aktual, berimbang, dan terpercaya. Dukung jurnalisme berkualitas dengan Pasang iklan Anda di Porosbaru sekarang .












Komentar