Laut Gili Iyang Tercemar, Warga Khawatir Oksigen Menurun

Sumenep, Porosbaru.com : Sepekan pasca peristiwa tumpahnya cairan yang diduga minyak mentah kelapa sawit di Pantai Legun, Desa Banrass, Pulau Gili Iyang, Kecamatan Dungkek, pada Kamis (22/01) memunculkan kekhawatiran serius terhadap dampak ekologis. Salah satunya dari Argus, warga Gili Iyang sekaligus Dosen Biologi Universitas Annuqayah (UA) Sumenep.

Kepada Porosbaru.com, Argus menuturkan hingga Rabu (28/01) belum terlihat adanya langkah konkret pembersihan tumpahan minyak mentah itu yang mencemari perairan pesisir pulau yang dikenal dengan kadar oksigennya tinggi tersebut, baik dari pihak perusahaan INDO OCEAN MARINE X maupun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep. Berikut petikan wawancara porosbaru.com dengan Argus pada Selasa (27/01) malam.

Bagaimana perkembangan kondisi kejadian dan lingkungan pasca tumpahan minyak?

Hingga saat ini belum ada perkembangan terkait pembersihan. Bahkan, pada hari keempat ketika saya turun langsung ke lokasi, limbah minyak sudah membusuk dan berubah warna menjadi putih. Gumpalan limbah dalam jumlah besar juga menimbulkan aroma menyengat. Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengganggu ketenteraman masyarakat Gili Iyang.

Apa dampak yang ditimbulkan dari kondisi tersebut?
Air dan minyak memiliki sifat berbeda dan tidak dapat bercampur. Akibatnya, minyak akan mengambang dan menutup permukaan laut. Dampaknya sangat besar terhadap ekosistem laut, karena lapisan minyak tersebut menghambat difusi atau masuknya oksigen ke dalam air. Organisme laut seperti plankton, ikan, moluska, hingga porifera terdampak langsung. Hal ini sudah terbukti dengan ditemukannya banyak ikan mati di pesisir pada hari pertama dan kedua, yang menjadi indikasi kuat terjadinya pencemaran lingkungan.

Apakah pencemaran ini berpotensi berdampak jangka panjang?
Ya, berpotensi. Minyak sawit memang dapat terurai oleh organisme, namun karena kadar oksigen menurun dan minyak menggumpal dalam jumlah besar, proses penguraian tidak berjalan optimal. Akibatnya, minyak berubah menjadi limbah yang mencemari pantai, memutus rantai makanan, merusak keseimbangan ekosistem, serta berdampak pada penurunan pendapatan masyarakat pesisir.

Apakah kondisi ini berkaitan dengan penurunan kadar oksigen di Gili Iyang?
Ada keterkaitannya. Oksigen dihasilkan oleh tumbuhan dan biota laut seperti plankton. Jika biota tersebut mati akibat pencemaran, maka produksi oksigen juga berpotensi menurun. Namun, hal ini tetap membutuhkan pengukuran dan penelitian lanjutan, karena kadar oksigen bersifat relatif. Diperlukan konsistensi pengukuran oleh pemerintah, dan harapan saya data tersebut terus diperbarui secara berkala.

Sebagai akademisi, tindakan apa yang Anda lakukan?
Sebagai dosen dan akademisi, saya telah mengambil sampel dari lokasi kejadian dan saat ini sedang diuji di Laboratorium Universitas Annuqayah. Selain itu, saya juga melibatkan mahasiswa untuk melakukan pengamatan. Untuk hasilnya, masih menunggu proses pengujian dan akan dipublikasikan.

Apa harapan Anda kepada perusahaan dan Pemkab Sumenep?
Ini bukan hanya persoalan data, melainkan tindakan nyata. Jika sekadar data, siapa pun bisa mengambil sampel. Namun, untuk tindakan pembersihan limbah dibutuhkan kewenangan. Karena kami belum mendapatkan informasi lanjutan dari pihak perusahaan, kami berharap pemerintah, khususnya instansi lingkungan hidup baik DLH Kabupaten Sumenep maupun provinsi, segera turun tangan membersihkan pencemaran ini. Jika tidak segera ditangani, dampaknya tidak hanya dirasakan Gili Iyang, tetapi juga pulau-pulau lain. Bahkan, kami menerima informasi bahwa limbah tersebut telah mencapai Pulau Sapudi.

Apakah ada pihak perusahaan di lokasi saat ini untuk dimintai keterangan?
Saat kejadian, pihak kapal tidak memberikan informasi yang jelas kepada kami sebagai warga. Setelah ABK dievakuasi dari kapal ke rumah warga, tim SAR datang dan menjemput mereka ke daratan. Saat ini, ABK yang berada di lokasi merupakan orang yang berbeda, sehingga kami tidak dapat memperoleh dan memverifikasi informasi secara valid terkait kejadian tersebut. (Aditya)

Komentar