Sumenep, Porosbaru.com : Sumenep mencatat deflasi bulanan (m-to-m) sebesar 0,57 persen pada Juli 2026. Angka ini menjadi yang terendah di Jawa Timur, sedangkan inflasi tahun kalender (y-to-d) tercatat 1,50 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumenep, Handoyo Wijoyo, mengatakan deflasi dipicu turunnya harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau; perawatan pribadi dan jasa lainnya; serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga.
“Penahan laju utama inflasi Juli 2026 dipengaruhi penurunan indeks pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil deflasi 0,41 persen, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,32 persen, serta kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,01 persen,” kata Handoyo dalam Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Kabupaten Sumenep, Senin (3/08).
Komoditas yang paling menahan inflasi ialah bawang merah dengan andil deflasi 0,15 persen. Disusul cabai merah dan cabai rawit yang masing-masing menyumbang 0,10 persen, serta daging ayam ras dan tomat sebesar 0,05 persen.
Selain itu, harga emas perhiasan turun dengan andil deflasi 0,31 persen. Sementara bahan bakar rumah tangga menyumbang deflasi 0,01 persen.
Di sisi lain, sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga, antara lain ketimun, cumi-cumi, beras, bensin, biaya pemeliharaan kendaraan, ikan kembung, bimbingan belajar, kursus bahasa asing, perbaikan ringan kendaraan, dan pepes.
Handoyo mengatakan, inflasi tahunan (y-on-y) Sumenep pada Juli 2026 mencapai 3,42 persen. Angka itu turun dari 4,48 persen pada Juni 2026 atau berkurang 1,06 poin, sekaligus menjadi inflasi tahunan terendah sepanjang 2026.
“Inflasi tahunan Kabupaten Sumenep pada Juli 2026 tercatat sebesar 3,42 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan Juni 2026 yang sebesar 4,48 persen dan menjadi inflasi tahunan terendah selama tahun 2026,” ujarnya.
Menurut Handoyo, inflasi tahunan terutama didorong kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil 1,25 persen, diikuti makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,18 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,35 persen.
Emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 1,13 persen.
Komoditas lain yang turut mendorong inflasi ialah beras, sigaret kretek mesin, minyak goreng, nasi dengan lauk, ikan tongkol, daging sapi, dan bensin. (Aditya/Red)
Porosbaru.com berkomitmen menghadirkan berita yang aktual, berimbang, dan terpercaya. Dukung jurnalisme berkualitas dengan Pasang iklan Anda di Porosbaru sekarang .












Komentar