Tahun Ajaran Baru Picu Inflasi Sumenep Juli, Deflasi Secara Bulanan

Sumenep, Porosbaru.com : Momen tahun ajaran baru menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan inflasi Sumenep pada Juli 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumenep mencatat inflasi tahunan (y-o-y) sebesar 3,42 persen, sementara secara bulanan justru terjadi deflasi sebesar 0,57 persen.

Dalam catatan peristiwa BPS, Juli 2026 bertepatan dengan dimulainya tahun ajaran baru setelah libur sekolah.

Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga sejumlah komponen pendidikan, seperti bimbingan belajar, kursus bahasa asing, seragam sekolah anak, dan sepatu anak.

Selain peristiwa tahun ajaran baru, faktor seperti kenaikan harga BBM Pertamax dan penurunan harga emas dunia juga turut mempengaruhi perkembangan harga di Sumenep.

Biaya Pendidikan Naik

BPS mencatat kelompok pendidikan menjadi salah satu penyumbang inflasi bulanan.

Bimbingan belajar memberikan andil inflasi sebesar 0,03 persen, sedangkan kursus bahasa asing sebesar 0,02 persen. Kenaikan harga juga terjadi pada seragam sekolah dan sepatu anak.

Meski biaya pendidikan meningkat, Kabupaten Sumenep mengalami deflasi bulanan sebesar 0,57 persen. Penurunan harga sejumlah komoditas pangan menjadi faktor utama yang menahan laju inflasi.

Komoditas penyumbang deflasi terbesar meliputi bawang merah, cabai merah, cabai rawit, daging ayam ras, tomat, serta emas perhiasan yang mengalami penurunan harga seiring melemahnya harga emas global.

BPS menjelaskan penurunan harga emas dunia turut menekan harga emas perhiasan di Sumenep sehingga menjadi penyumbang deflasi terbesar pada Juli 2026.

Di sisi lain, penyesuaian harga BBM non-subsidi juga memengaruhi inflasi, terutama pada kelompok transportasi melalui kenaikan biaya pemeliharaan kendaraan dan harga bensin.

Secara tahunan, penyumbang inflasi terbesar berasal dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, terutama emas perhiasan.

Selanjutnya disusul kelompok makanan, minuman dan tembakau yang didorong kenaikan harga beras, sigaret kretek mesin (SKM), dan minyak goreng.

Sementara kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran juga memberi andil inflasi melalui kenaikan harga nasi dengan lauk, es, dan bakso siap santap.

Inflasi Sumenep Masih di Atas Jawa Timur

Secara tahunan, inflasi Sumenep sebesar 3,42 persen masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata Provinsi Jawa Timur yang mencapai 2,87 persen dan nasional sebesar 2,88 persen.

Namun untuk inflasi bulanan, Sumenep justru mencatat deflasi terendah dibanding daerah lainnya di Jawa Timur dan menempatkan pada Juli 2026.

Porosbaru.com berkomitmen menghadirkan berita yang aktual, berimbang, dan terpercaya. Dukung jurnalisme berkualitas dengan Pasang iklan Anda di Porosbaru sekarang .

Komentar