Sumenep, Porosbaru.com : Ratusan pengunjung memadati Pantai Slopeng, Kecamatan Dasuk, Sumenep, saat Festival Perempuan Pesisir berlangsung pada Minggu (24/05) siang.
Para pengunjung yang mayoritas kaum hawa rela menerjang terik matahari untuk menyaksikan rangkaian kegiatan yang masuk dalam Kalender Event Sumenep 2026 itu.
Salah satunya Dewi (20), warga Desa Semaan, Dasuk. Ia datang bersama tiga temannya usai menunaikan salat dzuhur.
Menurutnya, festival tersebut menarik karena menghadirkan pentas budaya dan bazar UMKM dengan semangat keperempuanan.
“Seru, banyak penampilan. Ada tong-tong, tarian, sama bazar makanan juga,” ujar Dewi.
Pantauan Porosbaru.com, sedikitnya sepuluh tenda UMKM mengelilingi panggung utama Koalisi Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI) selaku penyelenggara.
Turut hadir dalam kegiatan itu Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) KPPI, Rosinah CH, bersama sejumlah pejabat daerah dan komunitas perempuan pesisir.
Dalam sambutannya, Rosinah mengatakan Festival Perempuan Pesisir menjadi ruang solidaritas sekaligus wadah menyuarakan persoalan perempuan kawasan pantai.
Ia menyinggung sejumlah persoalan yang masih menimpa perempuan pesisir, mulai dari kesejahteraan hingga dampak perubahan iklim yang ia nilai kerap luput dari perhatian publik.
“Perlindungan, kesejahteraan, dan perubahan iklim yang mereka hadapi selama ini tidak pernah benar-benar terlihat oleh masyarakat maupun pemerintah,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, KPPI juga meluncurkan dua buku hasil riset perempuan pesisir di lima kabupaten.
Buku berjudul “Ketika Perempuan Nelayan Bertemu Rob” dan “Deklarasi Perempuan Nelayan” itu memuat refleksi kehidupan perempuan pesisir melalui hasil wawancara dan catatan lapangan.
Salah satu kutipan buku yang dibacakan pembawa acara menyita perhatian pengunjung.
“Negeri penuh kekayaan alam tidak membuat perempuan pesisir hidup tenang. Hidup yang kian mencekam, perempuan berjaga setiap malam. Tanah makin tenggelam, rumah mereka perlahan menghilang,” kutipnya.

Sementara itu, Kabid Pariwisata Disbudporapar Sumenep, Andrie Dzulkarnain, menegaskan Festival Perempuan Pesisir menjadi bagian dari pengembangan wisata budaya daerah.
Menurutnya, kegiatan tersebut memberi ruang bagi perempuan pesisir untuk menampilkan potensi budaya sekaligus mendorong ekonomi kreatif masyarakat.
“Festival ini menjadi ruang ekspresi budaya, promosi wisata, sekaligus penguatan ekonomi kreatif perempuan pesisir Sumenep,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan serupa terus terselenggara sebagai agenda tahunan untuk memperkuat identitas budaya pesisir Sumenep.
“Kami berharap festival ini terus berkembang dan mampu menarik wisatawan nusantara berkunjung ke Sumenep,” pungkasnya.
Selain itu, berbagai pertunjukan budaya dan kegiatan kreatif ditampilkan dalam festival tersebut.
Di antaranya tarian 1000 Ombak Pesisir, musik tong-tong dan lagu tradisional, tarian anak pesisir perahu layar, pameran alat tangkap tradisional hingga fashion show daur ulang sampah.
Turut hadir dalam festifal itu, Kabid Kebudayaan Sumenep Ach Zaini, Kabid Pemasaran Disbudporapar Hendarti Anta Dewi, Camat Dasuk Wismadi Laksono, serta Sekretaris Kelautan dan Perikanan, Heru Ahmadi.

Mereka tampak menikmati acara hingga usai di sore hari nya. Sebelum pulang, kantong plastik di tangan mereka tampak penuh dengan jajanan yang mereka beli dari stan UMKM perempuan pesisir. (Aditya/Red)
Porosbaru.com berkomitmen menghadirkan berita yang aktual, berimbang, dan terpercaya. Dukung jurnalisme berkualitas dengan Pasang iklan Anda di Porosbaru sekarang .









Komentar