Sumenep, Porosbaru.com : Badan Pusat Statistik (BPS) Sumenep mencatat penurunan Indeks Ketimpangan Gender (IKG) sepanjang tahun 2025 sebesar 0,477.
Penurunan tersebut menekan ketimpangan sebesar 0,072 persen poin dari tahun sebelumnya yang tercatat 0549.
“Secara umum, terdapat dua dimensi yang mengalami perbaikan, yaitu dimensi kesehatan reproduksi dan pasar tenaga kerja,” ujar Kepala BPS Sumenep, Handoyo Wijoyo, Kamis (07/05) sore.

IKG sendiri mengukur ketimpangan antara laki-laki dan perempuan dengan melihat tiga dimensi, yakni kesehatan reproduksi, pemberdayaan dan keterlibatan di pasar tenaga kerja.
Kompetisi esai internasional. Daftar sebelum 16 Mei 2026.
Daftar SekarangHandoyo menjelaskan, semakin kecil nilai menandakan tingkat ketimpangan atau semakin setara antara laki-laki dan perempuan.
Menurutnya, dimensi kesehatan reproduksi dari indikator usia 15-49 tahun melahirkan bukan di fasilitas kesehatan, menurun signifikan sebesar 0,056 dari tahun sebelumnya 0,158.
“Artinya, jumlah perempuan usia 15-49 tahun yang melahirkan bukan di fasilitas kesehatan semakin berkurang, sehingga keselamatan ibu dan anak dalam proses persalinan lebih terjamin,” paparnya.
Kendati demikian, Handoyo menyoroti tingginya angka perempuan yang melahirkan anak pertama di usia kurang dari 20 tahun yang menurun tipis 0,398 di tahun 2025.
Menurutnya, kondisi ini berkaitan erat dengan masih maraknya pernikahan dini atau perkawinan usia kurang dari 20 tahun di tengah masyarakat Sumenep.
“Hal ini perlu mendapat perhatian khusus karena menciptakan ‘efek domino’ yang menghambat kesetaraan gender di dimensi lainnya,” imbuh Handoyo.
Akibatnya, dua indikator dimensi pemberdayaan, yakni indikator persentase perempuan usia 25 tahun ke atas dengan pendidikan SMA dan keterwakilan perempuan di DPRD mengalami ketimpangan.
Pada tahun 2025 persentase perempuan usia 25 tahun ke atas dengan pendidikan minimal SMA, tercatat sebesar 20,65 persen.
Sementara keterwakilan perempuan di legislatif tidak mengalami perubahan sejak tahun 2021 hingga tahun 2025 yang tercatat hanya delapan persen.
“Meski perempuan usia 25 tahun dengan pendidikan minimal SMA ke atas meningkat 19,15 persen, masih jauh tertinggal dari laki-laki yang mencapai 31,36 persen. Komposisi Anggota legistlatif mayoritas laki-laki sebesar 92 persen,” jelasnya.
Di sisi lain, dimensi pasar tenaga kerja menujukan perbaikan yang signifikan dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan meningkat 72,94 persen pada 2025 atau naik 3,12 persen poin.
Sedangkan TPAK laki-laki juga mengalami peningkatan dari 87,24 persen menjadi 87,68 persen atau naik 0,44 persen poin dari tahun 2024.
“Peningkatan TPAK perempuan yang semakin mendekati TPAK laki-laki menunjukkan adanya perbaikan kesetaraan dalam kesempatan kerja, meskipun tantangan akibat pernikahan dini masih membayangi sebagian perempuan,” pungkas Handoyo.

Penurun IKG Sumenep tersebut menempatkan Kota Keris menjadi tingkat ketimpangan gender terendah di Madura.(Aditya/Red)
Porosbaru.com berkomitmen menghadirkan berita yang aktual, berimbang, dan terpercaya. Dukung jurnalisme berkualitas dengan Pasang iklan Anda di Porosbaru sekarang .













Komentar