BMKG: Asap Karhutla Kalimantan Kecil Kemungkinan Capai Madura

Aditya Apriyanto
Asap Karhutla Kalimantan kecil kemungkinan capai Madura.
Pengendara roda dua dan roda empat melintas di jalan raya yang dipenuhi asap pekat. (porosbaru.com/aditya).

Sumenep, Porosbaru.com : Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Trunojoyo, Ari Widjajanto, menyebut kemungkinan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Kalimantan mencapai Madura sangat kecil karena angin masih didominasi angin timuran.

Pernyataan itu disampaikan menyusul beredarnya citra satelit Himawari-9 di media sosial yang memperlihatkan sebaran asap di sejumlah wilayah Indonesia, serta unggahan warga yang menyebut asap menutupi wilayah Sumenep.

“Kalau memang betul asap dari Kalimantan, sangat kecil kemungkinannya karena pergerakan angin saat ini mengarah ke barat hingga barat laut. Jadi, kecil kemungkinan asap itu melewati Jawa,” kata Ari kepada Porosbaru.com, Rabu (21/10/2026).

Meski intensitasnya mulai melemah, angin di Madura masih tergolong angin timuran. Kondisi ini membuat kemungkinan asap dari Kalimantan melintasi Jawa hingga Madura relatif kecil.

Menurut Ari, jika terdapat asap yang menutupi wilayah Jawa, sumbernya perlu ditelusuri, termasuk kemungkinan berasal dari kebakaran hutan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Beberapa hari yang lalu kami memantau kebakaran hutan yang cukup masif di Jawa Tengah. Di Jawa Timur juga banyak terjadi kebakaran hutan di daerah pegunungan dan kawasan konservasi,” ujarnya.

Khusus di Sumenep, pola angin dari tenggara secara teoritis memungkinkan massa udara bergerak dari wilayah Nusa Tenggara Barat atau Nusa Tenggara Timur.

Namun, Ari menyebut tidak ada indikasi kebakaran hutan di wilayah tersebut yang dapat dipastikan menjadi sumber asap kiriman ke Madura.

“Kalau melihat pola angin timuran saat ini, massa udara bisa berasal dari wilayah tenggara, seperti Nusa Tenggara Barat atau Nusa Tenggara Timur. Namun, tidak ada kebakaran hutan di wilayah tersebut yang bisa dipastikan menjadi sumber asap kiriman ke Madura, khususnya Sumenep,” paparnya.

Meski demikian, Ari tidak menutup kemungkinan asap berasal dari kebakaran lahan lokal di Madura. Penentuan sumbernya perlu mempertimbangkan lokasi dan waktu kemunculan, bukan hanya berdasarkan citra satelit atau penampakan visual.

Ia juga menjelaskan, kondisi yang menyerupai asap pada pagi hari sebelum matahari terbit bisa berupa kabut akibat kelembapan udara dan proses pengembunan pada malam hari.

“Kalau terjadi pada pagi hari sebelum matahari terbit, terkadang muncul kabut akibat kelembapan udara dan proses pengembunan pada malam hari,” ujarnya.

Di sisi lain, Ari mengingatkan masyarakat Madura agar mewaspadai suhu udara tinggi dan kelembapan rendah yang membuat kondisi udara lebih kering. Situasi ini meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Menurutnya, sejumlah wilayah Madura diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada akhir tahun, khususnya dasarian kedua atau ketiga. Hingga saat itu, masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi kebakaran.

Selain risiko kebakaran, Ari mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan jika tidak mendesak dan mencukupi kebutuhan air minum untuk mencegah dehidrasi akibat suhu tinggi.

“Masyarakat perlu mewaspadai kebakaran lahan, kebakaran hutan, maupun kebakaran lainnya karena kondisi udara cukup kering. Selain itu saya juga menghimbau kepada masyarakat agar sebisa mungkin masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah dan menghindari dehidrasi. Cukupi kebutuhan air minum agar kondisi tubuh tetap terjaga,” pungkasnya.

Terkait

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *