Sumenep, Porosbaru.com : Kepala BPS Kabupaten Sumenep, Handoyo Wijoyo menyebut inflasi tidak hanya angka bulanan (m-to-m) maupun tahunan (y-to-y) semata, melainkan juga perlu mencermati konteks dan komoditas penyebabnya.
Pemaparan tersebut ia sampaikan menyusul perbedaan sudut pandang inflasi Sumenep: tertinggi secara tahunan (y-to-y) dan terendah (m-to-m) secara bulanan di Jawa Timur.
Menurut Handoyo, perbedaan itu muncul karena inflasi dihitung menggunakan periode pembanding yang berbeda, yakni bulanan (m-to-m) dan tahunan (y-to-y).
Ia menilai kedua data tersebut sama pentingnya untuk melihat perkembangan harga, dengan implementasi tergantung analisis dan tujuan penggunaan data.
“Sebenarnya, disajikannya inflasi bulanan dan tahunan oleh BPS, agar seluruh konsumen data mengetahui rata-rata perkembangan harga baik bulanan maupun tahunan. Penggunaannya tergantung tujuan dalam mengamatinya,” papar Handoyo kepada Porosbaru, Sabtu (04/07).
Kendati demikian, Handoyo menerangkan, data inflasi bulanan kerap digunakan untuk mengamati fluktuasi harga komoditas yang bersifat musiman atau jangka pendek.
Sebaliknya, inflasi tahunan menggambarkan perkembangan harga dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
“Kadang-kadang pada komoditas tertentu, inflasi bulanannya naik turun ekstrim, padahal secara tahunan perubahan harganya sebenarnya tidak terlalu ekstrim, bisa flat atau bahkan lebih rendah,” ungkapnya.
Handoyo kembali menegaskan, keduanya, baik data tahunan maupun bulanan sama penting. Namun, perlu dibaca juga penyebab komoditas pemicunya.
“Intinya, sebenarnya melihat angka inflasi baik bulanan maupun tahunan, harus lebih detil melihat komoditas pemicunya,” imbuhnya.
Sebelumnya, BPS Sumenep kembali merilis inflasi Sumenep di periode Juni 2026 pada awal bulan Juli lalu.
Dalam pers rilis yang Porosbaru terima, secara bulanan (m-to-m) inflasi Sumenep di bulan Juni 2026 tercatat sekecil 0,01 persen menjadi yang terendah di Jawa Timur.
Di sepanjang tahun (y-to-d) pun, BPS membukukan inflasi Sumenep sebesar 2,08 persen. Angka tersebut menjadi terendah kedua se Jawa Timur.
Handoyo menjelaskan, inflasi Juni dipicu kenaikan harga pada kelompok transportasi, perawatan pribadi dan jasa lainnya, serta pakaian dan alas kaki.
“Komoditas yang paling besar menyumbang inflasi bulanan antara lain bensin, angkutan udara, emas perhiasan, pembalut wanita, dan seragam sekolah wanita,” jelasnya.
Sementara inflasi tahunan (y-to-y) di bulan Juni 2026 mencatat inflasi tertinggi di Jawa Timur sebesar 4,48 persen.
Kendati demikian, Handoyo menyebut angka tersebut turun sekitar 0,64 poin dibandingkan bulan Mei 2026 yang mencapai 5,12 persen.
“Inflasi tahunan terutama dipengaruhi kelompok makanan, minuman dan tembakau, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, serta penyediaan makanan dan minuman restoran,” imbuh Handoyo.
Menurutnya, Emas perhiasan menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar terhadap inflasi tahunan setelah harganya meningkat sekitar 38,50 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Ia juga menilai perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) menjadi indikator penting untuk memantau perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat.
“Inflasi yang rendah dan stabil diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” pungkas Handoyo. (Red/Aditya).
Porosbaru.com berkomitmen menghadirkan berita yang aktual, berimbang, dan terpercaya. Dukung jurnalisme berkualitas dengan Pasang iklan Anda di Porosbaru sekarang .














Komentar